(021) 424 8790 / 422 0214 info@inharmonyclinic.com
Imunisasi DPT

Imunisasi DPT – Reaksi Setelah Di Imunisasi

Imunisasi DPT efektif mencegah anak dari terjangkit penyakit DPT  ( Difteri Pertusis Tetanus).

 

 

Difteri adalah radang tenggorokan yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian anak hanya dalam beberapa hari saja. Pertusis adalah penyakit radang pernafasan (paru-paru) yang disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari, karena lama sakitnya dapat mencapai 3 bulan lebih atau 100 hari. Gejala penyakit ini sangat khas, batuk yang bertahap, panjang dan lama disertai bunyi ‘whop’ dan diakhiri dengan muntah, mata dapat bengkak atau penderita dapat meninggal karena kesulitan bernafas. Tetanus adalah penyakit kejang otot seluruh tubuh dengan mulut terkancing tidak bisa dibuka. Imunisasi DPT efektif mencegah anak dari terjangkit penyakit-penyakit tersebut.

Reaksi setelah imunisasi DPT

Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Namun reaksi yang paling dikhawatirkan oleh para orang tua saat akan menyuntikkan vaksin DPT pada anaknya adalah munculnya demam.

Sebenarnya demam atau tidaknya anak setelah disuntik DPT, ditentukan oleh beberapa faktor.

Faktornya diantaranya adalah kondisi anak saat diimunisasi dan jenis vaksin DPT yang diberikan.

Umumnya, di Indonesia, ada 2 jenis vaksin DPT yang tersedia yaitu DPwT dan DPaT. dari kedua jenis ini DPwT merupakan tipe yang lebih mungkin menimbulkan demam pada anak.

Demam adalah salah satu indikator bahwa daya tahan tubuh sedang bekerja dan membentuk antibodi. Namun terbentuknya antibodi tidak selalu menyebabkan demam. Jadi, demam atau tidaknya anak setelah mendapatkan imunisasi DPT tidak menjadi patokan bahwa imunisasi yang dilakukan berhasil atau gagal.

Selain itu, perlu Anda diketahui, beberapa imunisasi menimbulkan reaksi tertentu. imunisasi DPT  dapat menimbulkan efek samping selain demam seperti tangan atau kaki pegal-pegal, rewel, kurang nafsu makan, kelelahan, muntah, dan demam. Tapi, reaksi-reaksi tersebut cuma bersifat sementara hingga tak perlu terlalu dikhawatirkan. Kendati demikian, tak urung orang tua cemas juga, terutama yang punya riwayat kejang. Takutnya, si kecil akan mengalami kejang setelah di imunisasi DPT lantaran reaksi demam yang ditimbulkan. Apalagi, asosiasi kedokteran di Amerika pun sempat tak menganjurkan imunisasi DPT diberikan pada bayi yang memiliki bakat kejang atau riwayat kejang di keluarganya.

Imunisasi DPT pada bayi termasuk imunisasi wajib yang diberikan kepada bayi agar dapat menghindarkan seseorang dari ketiga penyakit di atas. Imunisasi diberikan sejak bayi hingga usia balita sebanyak lima kali yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, dan lima tahun. Reaksi atau efek samping setelah imunisasi umumnya anak mengalami demam, ruam merah di sekitar lokasi suntikan. Ada juga reaksi yang cukup berat namun sangat jarang terjadi seperti kejang atau demam di atas 40.5°C.

 

Baca juga :

Cara Mengatasi Demam Setelah Imunisasi pada Bayi

Author Info

admin

No Comments

Post a Comment