(021) 424 8790 / 422 0214 info@inharmonyclinic.com

Imunisasi PCV, Solusi Penyakit Berbahaya

Imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) berisi vaksin pneumokokus yang berfungsi melindungi tubuh dari kemungkinan terkena infeksi pneumokokus. Infeksi ini dapat berisiko berubah menjadi kondisi yang serius dan berakibat fatal. Beberapa kondisi medis yang juga bisa terjadi akibat infeksi ini adalah pneumonia, septikemia (sejenis keracunan darah), dan meningitis. Kemungkinan terburuk dari infeksi bakteri ini adalah kerusakan otak permanen atau bahkan dapat menyebabkan kematian.

Mengingat besarnya risiko berbahaya tersebut, maka pemberlakuan imunisasi PCV menjadi pilihan yang krusial. Apalagi, makin banyak subjenis Streptococcus Pneumonia yang resisten terhadap antibiotik. Yang juga menjadi perhatian adalah penyebaran penyakit ini yang bisa menimpa siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Vaksinasi sendiri dianggap menjadi cara yang paling tepat dalam upaya mencegah penyakit pneumokokus. Karena bisa menyerang anak-anak dan dewasa, vaksin ini kemudian terbagi menjadi dua berdasarkan kelompok umur pasien.

  1. Vaksin Orang Dewasa

Imunisasi PCV berguna untuk melindungi diri dari 23 jenis bakteri Streptococcus Pneumonia. Vaksin ini memakai bakteri mati sehingga tidak membuat pengguna mengalami sakit atau demam.

  1. Imunisasi PCV Untuk Anak-Anak

Vaksin yang disebut dengan konjugasi pneumokokus ini selain biasa diberikan secara rutin kepada bayi dan balita, cocok juga diberikan kepada orang dewasa berusia di atas 50 tahun. Imunisasi dengan vaksin jenis ini mampu melawan hingga 13 jenis Streptococcus Pneumonia.

Meski penyakit ini mungkin menimpa siapa saja, ada beberapa golongan yang rentan mendapatkan infeksi yang dapat diakibatkan oleh bakteri Streptococcus Pneumonia, yaitu :

  • Orang-orang yang berusia di atas dua tahun yang mengalami penyakit jantung kronis, gangguan paru-paru, gagal jantung kongestif, diabetes mellitus, penyakit hati kronis, kecanduan minuman keras, kebocoran cairan spinal ( tulang belakang), kardiomiopati, bronkitis kronis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau emfisema.
  • Orang-orang berusia lebih dari dua tahun yang mengalami disfungsi limpa (seperti penyakit sel sabit) atau kurangnya fungsi limpa (asplenia), keganasan darah (leukemia), multiple myeloma, gagal ginjal, transplantasi organ, atau kondisi imunosupresif, dapat juga termasuk infeksi HIV.

Baca Juga :

  1. Seputar Penyakit Rabies
  2. Reaksi Setelah Imunisasi DPT (Difteri, Pertussis, Tetanus)

Author Info

admin

No Comments

Post a Comment